Senin, 07 Januari 2013

Antri.. antri.. oh antri..


Ketidak adilan itu sangat jahat, melanggar antrian itu curang dan kedua hal itu menghancurkan mimpi dan semangat orang lain.
Hari ini,  saya  mendapat giliran untuk mempresentasikan tugas kelompok pada mata kuliah Tafsir. Karena printer saya kebetulan sedang rusak , jadi saya harus mengeprint dan mengcopynya di rental atau fotocopy. Mengingat waktu yang sudah sangat mepet saya memutuskan untuk mengeprint tugas saya di salah satu foto copy yang terletak di dekat gerbang kampus. Saat saya tiba di sana, keadaan di fotocopy tersebut lumayan ramai , ada beberapa orang yang antri untuk mengeprint tugas mereka jadi saya ikut mengantri dan menunggu giliran. Tiba2 ketika hampir tiba giliran saya, datang seorang kakak letting yang memberikan flask disknya kepada abang yang bekerja fotocopy tadi, dan meminta  untuk mengedit tugasnya. Entah dia sengaja atau tidak, tapi yang jelas kakak tadi menyerobot antrian saya secara terang-terangan, tanpa meminta izin, dan tanpa meminta maaf pula! Kontan saja, saya yang saat itu sedang terburu-buru dan panik merasa sedikit marah, lalu saya menyela intruksi kakak tadi.
“Maaf kak, tapi saya duluan yang mau ngeprint.” Ujar saya sopan (masih berusaha untuk bersikap baik, soalnya menghormati orang tua itu perlu).
“Oh, Kakak Cuma ngedit judul saja dek, ngeprintnya nanti kok, Cuma sedikit yang di edit.” Ujarnya sambil tersenyum.
Karena saya berfikir bahwa kakak tadi hanya sebentar , saya pun membiarkannya duluan.
Sedetik.
Dua detik.
3 menit.

Sampai hampir 5 menit kemudian kakak yang tadi juga belum selesai, malah saat saya lihat abg petugas fotocopy tadi sedang mengedit keseluruhan sampul, bahkan mengeprintnya. Kontan saja saya kecewa berat. Menunggu print tersebut memproses data yang akan di print membutuhkan waktu yang tidak sebentar, belum lagi editan yang yang tadi katanya tadi ‘hanya judul’ mulai merambah sampai ke bagias “Isi” yang sama sekali tidak sedikit. Tanpa babibu saya langsung berangkat dari tempat tadi, sebelum jilbab yang kakak tadi kenakan copot, atau komputer yang sedang mengeprint itu mati karena CPUnya rusak. Saya kecewa berat.
Dalam kehidupan, saya seringkali menemui kejadian seperti tadi. Tidak hanya terjadi pada diri saya sendiri, tapi juga menimpa orang lain. Orang-orang terlalu sering memotong antrian tanpa merasa bersalah, dan berlaku tidak adil terhadap orang lain. Mungkin menurut kita sepele, karena kita tidak melihat dari sudut pandang yang dialami oleh orang yang kita sabotase antriannya atau yang kita sakiti hatinya. Kejadian yang saya alami mungkin sepele menurut menurut sebagian orang, mungkin menurut sebagian orang  itu, masalah ini terlalu remeh untuk dibahas , tapi sekali lagi bukan masalah sepele atau tidaknya saya membahas ini, tapi pada salah atau benarnya suatu perbuatan itu.
 
Mungkin tanpa kita sadari, kita sering memotong antrian tanpa merasa bersalah dan tanapa mengetahui betapa sakit hatinya orang yang sudah kita curangi tadi, bisa jadi dia memilki urusan lain yang jauh lebih penting sehingga harus cepat menyelesaikan urusannya yang sekarang, dan kita dengan seenaknya menghambat urusan orang tersebut dan lebih mementingkan ego kita dengan menyerobot antrian. Atau bisa jadi, orang sudah sangat lama menunggu, dan kita datang dengan santainya menyerobot barisan paling depan hanya dengan alasan ‘saya Cuma sebentar’. Seandainya itu terjadi pada kita, apa yang kita rasakan? Contohnya bagaimana ketika kita sedang mengantri di ATM untuk mengambil uang, kita terburu-buru karena harus membeli sesuatu sebelum tokonya tutup atau membayar sesuatu yang sebentar legi jatuh tempo, yang kalau kita telat membayar akan mendapat denda. Lalu tiba-tiba datang orang lain memotong antrian dengan alasan dia hanya sebentar. Dan ternyata toko yang ingin kita kunjungi tadi sudah tutup, atau waktu pembayaran tadi sudah habis. Sepele memang permasalahannya, tapi bagaimana dengan perasaan kita?
 Dalam kehidupan mungkin kita juga sering memperlakukan orang dengan tidak adil, hanya karena lebih mengenal seseorang maka kita akan melayaninya terlebih dahulu, dan mempersilahkan orang yang tidak kita kenal belakangan. Hal ini sering saya lihat dalam forum diskusi makalah di setiap mata kuliah, saat pemateri maju, maka teman2nya yang agak dekat diberi kesempatan bertnya lebih dahulu ketimbang orang yang tidak terlalu dekat dengan kita, baru jika masih ada kesempatan maka akan di berikan kepada orang yang tidak terallu dekat dengan kita tadi. Sadarkah kita? Bahwa hal-hal kecil seperti itu terkadang dapat menimbulkan rasa sakit hati dan kurangnya rasa kepercayaan diri sesorang? Mungkin kita juga tidak sadar sampai kita diperlakukan dengan perlakuan yang sama atau lebih parah. 
Saat seseorang berlaku tidak adil terhadap dua orang, dimana dia lebih mengutamakan satu orang ketimbang yang lain, maka orang yang tidak di utamakan akan merasa terkucilkan. Hal ini merupakan hal yang lumrah terjadi, karena tidak ada manusia yang ingin dibedakan bahkan dalam hal sekecil apapun. Mungkin tidak terasa karena kita sering berada di pihak yang di utamakan, tapi rasakannlah seandainya kita di pihak yang tidak di utamakan, apa yang kita rasakan? Pasti sengaja atau tidak kita akan langsung terfikir, “apa yang salah dari diriku? Kenapa bukan aku yang di pilih? Kenapa bukan aku yang di utamakan? Apa yang salah?” jika hal tersebut berlangsung maka kepercayaan diri seeorang dapat turun bahkan mengakibatkan hilangnya minat untuk berusaha terhadap apa yang dia cita-citakan. 

Satu bukti nyata, dalam sebuah sekolah kenapa murid2 yang yang urutan rangkingnya berada pada urutan 10 ke atas akan jarang maju ke depan atau melaksanakan tugas dengan baik. mereka cenderung malas, dan lebih suka bermain. Kenapa? Karena guru itu sendiri lebih suka menyuruh murid yang pintar ketimbang murid2 di atas 10 besar itu tadi, jadi murid2 pintarlah yang dekat dengan guru, dan murid2 lain semakin jauh karena merasa tidak di anggap. Hal tersebut membuktikan betapa pentingnya kita bersikap adil terhadp sesame, tidak peduli siapakah dia, dekat atau tidak, pintar atau bodoh, selama dia membutuhkan bantuan kita, maka perlakukanlah ia dengan baik.
Betapa banyak kejadian buruk yang terjadi karena ketidak adilan yang menimbulkan kecemburuan. Berawal dari hal sepele, tapi akibatnya tidakalah sepele. Kakak mencelakakan adik karena merasa tidak di perlakukan adil, istri yang pertama meracuni suami kerena merasa tidak di perlakukan adil, terjadinya korupsi dalam sebuah perusahaan karena merasa bosnya tidak adil, sgalanya berasal dari hal-hal yang kecil.
Berlaku adil bukanlah hal yang buruk, mulailah belajar untuk berlaku adil terhadap sesama, marilah menanamkan pemikiran bahwa perbuatan baik itu tidak hanya harus dilakukan pada orang kita kenal. Dahulukan orang yang pertma kali meminta pada kita, sesuai dengan kebutuhannya. Marilah membiasakan diri kita untuk meletakkan sesuatu pada tempatnya, memperlakukan orang dengan adil, sama rata dan setara. Kecuali untuk orang2 yang memang memerlukan perhatian lebih dan khusus.
Mencurangi atau menyerobot antrian juga bukanlah hal yang baik, maka mulai sekrang marilah kita membiasakan diri untuk disiplin dan teratur, sebentar atau tidak keperluan sabarlah menunggu pada giliran kita, jika memang buru-buru maka mintalah izin pada orang yang di depan anda, jangan hanya menyerobot tanpa meminta maaf. Bukan hanya kita yang memilkii urusan yang mendesak dan keperluan yang penting, orang-ornag di sekitar kita juga begitu, jadi berusahalah mengerti dan mulailah menjaga perasaan orang lain.  Karena sepele atau tidak, keteraturan itu penting, dan saling menghargai juga merupakan satu aspek yang paling penting dalam kehidupan. Kita tidak pernah bisa hidup tanpa orang lain, jika kita menjaga apa yang menjadi hak orang lain, maka Tuhan akan selalu menjaga apa yang menjadi hak kita secara utuh. Jadi, mari berubah dan semoga kita dapat selalu memancarkan kebaikan dimanapun kita berada. Semoga bermanfaat.
Cut may.

2 komentar:

Copyright © 2015 maycut on post