Jumat, 11 Januari 2013

empati dalam patah hati (sebuah permintaan maaf) hehehe


Beberapa hari yang lalu, saya mengirimi info lomba kepada sesorang kakak (abg) letting, melalui pesan di sebuah akun jejaring social. Saya membagi info tidak hanya kepada kakak tsb, tapi sesama teman yang suka menulis, saya mengiriminya info tersebut karena yang saya lihat dari blognya beliau adalah orang yang suka menulis dan sepertinya salah satu resolusinya tahun ini adalah menulis sebah novel (hanya tebakan), jadilah saya mengiriminya info tsb. Kami sempat saling mempromosikan blog masing-masing, dan saling memberi masukan (atau lebih tepatnya dia yang memberi masukan untuk tulisan saya).

 Jadi, ada satu postingan terbaru dalam blognya yang menceritakan tentang masa-masa patah hati yang dia alami, disebuah pesan saat saya menyinggung tentang postingan terbaru itu, dia mengatakan bahwa dia menulis postingan itu karena banyak teman lelaki-lakinya yang kehilangan kekasih mereka pada bulan Januari tahun ini karena keburu di lamar orang. Lalu dengan innocentnya saya mencandai hal tersebut dengan mengatakan “wah, pantesan ada lagu Januarinya Glen Fredly, ternyata dinamika orang dewasa itu rumit ya (sok remaja), heheh " setelah pesan tersebut terkirim, tiba-tiba saya menyesal.

Saya menyesal karena saya bahkan tidak sadar, kalau rasa patah hati itu bukanlah hal yang bisa dicandai seperti itu. Walaupun mungkin dia bahkan tidak peduli dengan candaan saya, tapi sejujurnya saya peduli. Dari beberapa postingan blognya saya bisa membayangakan merasakan bagaimana rasanya kehampaan yang datang saat kita harus berpisah dengan orang yang kita cintai dan sayangi lebih dari 4 tahun. Ada begitu banyak kenangan yang terukir, ada begitu banyak jejak yang tertinggal, dan ada begitu banyak mimpi yang terjalin, tapi semuanya hilang tanpa saya ketahui apa alasan pastinya (karena ini masalah orang lain), tapi yang jelas saya bisa merasakan kehampaan itu, saya bisa merasakan kekosongan harapan dan bagaimana rasanya ditinggalkan dari tulisan-tulisannya. Dan lucunya saya malah mencandai hal tsb. Ada perasaan yang janggal yang saya rasakan, yaitu merasa tidak nyaman, dan merasa tidak enak karena bersikap seperti itu, perasaan itu terus menghantui saya, menggelayuti, dan membuat saya merasa tidak enak, dulu  kata guru sosiologi saya perasaan itu di sebut ‘merasa bersalah’.

Apakah empati itu kurang?

Kita mungkin sering mendengar masalah yang diceritakan oleh seorang teman kepada kita. Dan dia selalu mengatakan “Parah banget masalahnya, coba kamu berada di posisiku” dan kita akan menjawab, “Iya2, aku ngerti kok apa yang kamu rasain” tanpa pernah benar-benar mengerti apa yang dia rasakan.

Kita bahkan tidak perlu repot2 memposisikan diri seperti dia, kita hanya berusaha bersimpati dan menenangkan perasaaanya. Dulu ketika SMA guru sosilogi saya pernah menjelaskan bahwa jika kita ingin bersimpati, maka sebelumnnya berempatilah pada orang lain.


Empati adalah memposisikan diri kita pada keadaan orang lain, merasakan apa yang dia rasakan, membayangkan seolah-olah apa yang jika kita berada di posisi orang lain. dengan berempati, kita dapat merasakan kesusahan yang orang lain alami, kesakitan yang di raskan, dan masalah atau kemelut yang di hadapi. Ketika kita berempati, akan muncul pengertian, rasa kasihan, dan rasa ingin menolong kita sering menyebut rasa itu sebagai simpati. Ketika simpati muncul, karena kita berempati maka kita akan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, membantu dengan tulus, serta benar-benar peduli, kenapa? Karena kita telah membayangkan bagaiman rasanya memilki masalah yang sedemkian besar, tanpa ada yang membantu.

Sherlok Holmes juga pernah mengatakan,
untuk menangkap seorang penjahat yang hebat, maka kita harus berpura-pura menjadi penjahat itu, posisikan diri sebagai dirinya, dan perhitungkan apa yang akan dia lakukan. Maka semua triknya akan muncul sejelas kau sendiri yang melakukannya.

Akan tetapi, akan tiba masanya kita tidak bisa berempati pada masalah orang lain. bukan karena kita tidak ingin, tapi karena kita tidak pernah dan belum bisa membayangkan bagaimana rasanaya menjadi seperti itu. jadi, jika tiba masanya kiat tidak bisa berempati, maka bersimpatilah. Karena jika kita tidak peka terhadap sesuatu, bisa jadi kita akan menyakiti perasaan orang lain.

Dalam keluarga saya sendiri, kami selalu diajarkan untuk berempati. Jika ada kesalahan kami akan disuruh membayangkan bagaiman rasanya posisi orang yang di ganggu, di sakiti atau dimarahi atau orang yang dirugikan karena keslahan yang kami lakukan.

Saya sering berusaha berempati pada masalah teman-teman yang lain, tapi saya tidak bisa berempati pada masalah patah hati tadi. Sejujurnya saya belum pernah patah hati, dengan perasaan seintens dan seberat itu. Saya bahkan belum melewati tahapan usia belasan, hidup hanya sesuatu yang ringan. Bila saya kecewa terhadap seseorang yang saya cintai  sukai, teman2 selalu menjadi pelarian yang menyenangkan. Saya belum pernah merasa hampa, merasa gundah dan sebegitu kehilangan karena seorang laki-lak. Jadi saya bahkan tidak bisa berempati pada masalah patah hati. Tapi saya bisa memahami, dan bersimpati, jadi saya benar-benar menyesal telah mencandai hal tersebut tanpa memikirkan sesakit apa rasanya patah hati itu.

Saya tidak tahu apakah kakak tersebut akan membaca ini atau tidak, saya sudah meminta maaf padanya dan terlalu malu untuk melihat jawabannya. Jadi mungkin melalui tulisan ini, permintaan maaf saya bisa tersampaikan. Mungkin saja dia juga tidak terlalu menanggapi candaan saya, tapi di tanggapi atau tidak saya benar-benar merasa bersalah atas apa yang saya lakukan.

dan kalau ita merasa bersalah maka yang harus kita lakukan adalah meminta maaf bukan? hehehe.
Jadi, mulailah belajar berempati terhadap orang lain, tidak hanya pada masalah kehidupan, tapi juga keadaan yang orang lain hadapai. Jangan terburu-buru menjudge sesuatu salah, lihatlah melalui sudut pandangnya, dan pikirkan kenapa dia melakukan hal tersebut. Jika kita selalu mau melihat masalah orang lain dari sudut pandang mereka (berempati) maka keikhlasan dalam membantu tidak lagi menjadi hal yang sulit bukan?

Semoga bermanfaat yaa..

Cut may.

2 komentar:

Copyright © 2015 maycut on post