Senin, 18 Februari 2013

Sesuatu yg bernama persahabatan. (Me n my bestie Ulfa)


Sesuatu yang bernama persahabatan, part 2.
Hidup merupakan sebuah anugerah yang di berikan oleh Allah kepada kita, seberat apapun masalah, sesulit apapun tantangan, semua pasti ada jalan keluar, dan semua memiliki hikmahnya. Dan baiknya lagi Allah selalu mengirimkan orang-orang  terbaik untuk membantu kita melewati semua masalah dan tantangan kehidupan. Dan bagiku, salah satu orang terbaik itu adalah Zakiah Ulfa. Sahabat terbaikku.
Pertemuanku dengan Ulfa, dimulai saat kami masuk pesantren. Kami adalah teman sekamar.  Sifatku yang penakut, dan selalu membayangkan sesuatu yg mistis membuatku selalu lari ke tempat tidurnya (atau tempat tidur Rezcia). Lama-kelamaan kami mulai akrab, karena kami sama-sama penggila komik, sampai Ulfa jatuh sakit dan harus pulang untuk menstabilkan kondisinya. Akhirnya kami berpisah sampai hampir 1 semester lamanya. Dia kembali saat kami sudah naik kelas dua, saat itu kami semua sudah pindah kamar dan tidak sekamar lagi. Pertemuan kembali itu diawali dengan pembahasan komik, aku ingat sekali saat itu kami membahas tentang komik Ufo baby,  (tahu kan? Yang bayi luar angkasa ituloh, oke deh kalau memang nggak tau). Semenjak itu kami berdua sulit di pisahkan, kemana-kemana selalu berdua, dia sering menghabiskan waktunya dikamarku ketimbang kamarnya sendiri, dan dia adalah salah satu orang yang paling baik yang pernah aku temui.
Sama seperti Rezcia, Ulfa adalah salah satu orang yang paling baik, paling aku sayangi dan paling berpengaruh dalam hidupku.  Dia orang yang paling tidak egois yang pernah aku temui, oh dan yang paling sabar. Dan juga orang yang paling pengertian. Dia selalu saja sabar menghadapi sikapku yang kadang-kadang berubah-ubah, padahal dia anak satu-satunya tapi itu tidak menyebabkan dia menjadi orang yang egois atau jahat –well, dia hanya agak manja.
Bersahabat dengan Ulfa, membuatku dapat memhami jati diriku sendri. Aku tidak perlu memakai topeng atau menjadi orang lain saat bersamanya –bukan berarti saat bersama dengan orang lain aku selalu bermuka dua. Aku hanya bisa bertindak segila apapun dan sebodoh apapun di depannya, aku bisa menangis, marah, dan bersikap seperti anak kecil selepasnya di hadapannya. Ulfa adalah rumah bagiku, rumah yang sangat nyaman dan aman. Seperti halnya dengan Rezcia, aku juga sempat berpisah dnegan Ulfa. Tapi dia salah satu orang yang bagiku tidak akan kulupakan meski kami jarang bertemu. Sejauh apapun kami, bagiku ia tetap sahabatku, bahkan sampai sekarang.
Ulfa adalah orang yang kalem, dia tidak menjadi pusat perhatian dalam sebuah kelompok. Tapi dia penting  dalam sebuah kelompok. Persahbaatan kami sering diwarnai dengan omelannya karena kenakalanku. Berbeda dengan Rezcia dan aku, Ulfa adalah orang yang cenderung lebih dewasa dan bertanggung jawab. Saat aku selalu terlambat masuk sekolah, dia sudah duduk manis di bangkunya. Saat aku berbicara seenaknya dengan bahasa Indonesia dia dengan kalem tetap berbicara English dan Arab. Saat aku selalu membolos jam malam belajar, dia dengan tenang dan anggun sudah berada di kelas. Aku dan Ulfa adalah dua jurusan yang sangat bertolak belakang, dia merupakan sebuah keteraturan yang anggun, bertanggung jawab dan baik, sedangkan aku (dulu) adalah remaja yang nakal, (sekarang) ceroboh, berantakan  dan pelupa.
Aku tidak pernah lupa bagaimana stressnya dia saat aku di hukum shalat di tengah lapangan!(oke itu hal yang paling memalukan karena aku tidak shalat berjamaah di mesjid, tapi itu dulu ok?)  Atau saat aku di bedirikan di jalan protokol sekolah karena terlambat, atau saat aku berulang kali masuk Mahkamah kebahasaan. Kalau setelah menjalani semua hukuman itu telingaku pasti  berdenging karena terlalu banyak dimarahi, maka setelah itu aku juga akan dimarahi oleh gadis jangkung ini. Dan tidak pernah aku lupakan, setelah puas memarahiku aku, dia hanya akan berkata “Udah! Aku nggak mau bilang lagi, kalau ketahuan lgi qe aku nggak tau ya! Aku nggak peduli ge!” dan kejadian itu selalu berulang-ulang sampai aku kelas 3. (bukan berarti aku luar biasa bandel ya, aku cukup pintar untuk menghindari jasusah (mata-mata) yang memantau siapa yang berbahasa Indonesia.)
Ada satu kejadian yang tidak pernah aku lupakan seumur hidupku, saat itu jatuh sakit dan tidak sanggup pergi ke mesjid. Dan aku sama sekali belum makan, Ulfa datang dari asrama sebelah mengambilkan makananku dan menjagaku sepanjang malam, bahkan dia menginap di asramaku dengan resiko di pakaikan jilbab merah, dia mengurusku dengan semua omelannya. Dia mungkin memang orang yang cerewet, manja dan kadang-kadang selalu mengaturku, tapi sungguh aku sayang sekali kepada orang cerewet itu.
Oke, kami memang dua orang yang jauh berbeda, tapi ada satu persamaan kami yang paling identik. Yaitu, buku. Yaa. Begini-begini aku suka baca loh. Dan Ulfa juga begitu, kami selalu kalap kalau melihat tumpukan buku-buku. Dan hanya dia satu-satunya sahabatku dan temanku yang selalu mau kalau setiap malam duduk di perpustakaan dayah sampai lonceng malam di bunyikan. Dia selalu menjadi rumah yang nyaman bagiku. Selalu menjadi tempat paling special dalam hidup ini. Aku selalu bersyukur  pada Tuhan, bahwa dulu aku bisa bertemu dengannya dan menjadi sahabatnya.
Yaah, walaupun saat ini kami jarang bertemu, tapi bagiku dia selalu menjadi sahabatku. Selalu, tidak ada yang berubah, setelah 7 tahun lebih bersahabat dengannya dia selalu menjadi orang yang paling aku sayangi. Dia akan selalu menjadi sahabatku, rumahku dan yaaah orang yang selalu ‘mengingatkanku’ bahasa halus dari cerewet. Hehehe.
Yup, sesimple itu bukan? saat Tuhan memberikan orang-orang terbaik untukmu maka jagalah mereka sebaik-baiknya. Allah memberikan Rezcia dan Ulfa untukku, dan bagiku itu sudah lebih, sungguh lebih dari cukup. Selama ada mereka berdua, keluargaku, maka semuanya akan baik-baik saja. Bagiku.
(fotonya kami berdua belum aku post. edisi selanjutnya yaaa.. :)


0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 maycut on post