Sabtu, 02 Februari 2013

sesuatu yg bernama "persahabatan"


Hari ini 29 Januari 2013, my best friend genap 20 tahun. Sebuah langkah awal menuju kedewasaan yang matang. Tidak terasa, seorang Cut Rezcia Zahira sudah menapaki jejak kedewasaan, di mulai dari hari ini. hehehe.
Well, itu artinya sudah hampir 12 tahun kami bersahabat. Kalau ada yang bertanya apa peran seorang Cut Rezcia Zahira dalam kehidupanku. Aku hanya bisa menjawab satu kata ‘Banyak’.  Mudahnya saja, kalau ada yang menanyakan siapa 10 orang yang paling berpengaruh dan paling aku sayangi dalam hidupku  maka Rezcia akan masuk salah satunya.
Kami sudah bersahabat hampir 12 tahun lamanya. Dimulai saat aku baru pindah ke Sabang. Saat itu umurku 8 tahun lebih, dan kami baru duduk di kelas 3 SD. Masa kecilku sangat bahagia, Sabang adalah salah satu faktornya, dan seorang gadis lucu, (imut) gendut, yang sering banget kepang dua. Udah ketebak kan siapa. Hehehe (sori Rezcia.. )
Aku tidak akan pernah lupa bagaimana nasib telah mempertemukan aku dengannya, sahabatku sebangku.
Saat itu aku menjadi murid baru, hari pertama masuk kelas sebagai murid pindahan. Setelah memperkenalkan diri dengan gugup di depan kelas, ibu guru menunjuk sebuah tempat duduk di dekat jendela untukku. Di sampingnya telah duduk seorang anak perempuan chubby, putih, dan kelihatannya bersemangat sekali dengan rambut kepang duanya tersenyum padaku. Aku pun balas tersenyum, lalu beranjak duduk dengannya. Saat aku memperkenalkan diri, anak perempuan tadi dengan percaya diri ikut memperkanalkan namanya. “Kenalin, nama aku Cut Rezcia Zahira, biasa di panggil Cut”.
Aku tersenyum dan ikut memperkenalkan asalku. Tempat duduk  kami terletak di dekat jendela besar yang nyaman. Sekolah kami adalah bangunan khas belanda dengan jendela-jendela besar seperti rumah-rumah bekas jaman belanda. Dari arah depan Seorang anak lelaki, yang matanya berbinar-binar nakal –baru aku ketahui kemudian kalau dialah dedengkot kekacauan di kelas kami – celingukan memandangku. Aku hanya tersenyum padanya (maklum anak baru, cuma bisa senyum2 sok manis). 
Saat itu aku hanyalah seorang anak kecil yang terlalu gugup terhadap suasana baru yang harus dihadapinya, dan tidak berani memulai percakapan, bahkan dengan teman sebangku. (Yaah, aku selalu payah dalam memulai percakapan awal, bahakan sampai sekarang). Dan Rezcia tetap sama seperti sekarang selalu pintar memulai percakapan dari awal. Dia mudah saja langsung melantikku menjadi temannya, tidak ada kecanggugan sama sekali. Dari kecil Rezcia telah menunjukan bakat sosialisasinya yang sangat baik. Aku tidak akan pernah lupa percakapan kami yang pertama, sekaligus percakapan paling konyol yang pernah ada sepanjang persahabatan kami. Jadi percakapan awal kami kira-kira begini bunyinya :
“Eh, liat anak laik-laku yang itam tadi?” bisiknya semangat.
Aku menganguk penuh konspirasi. “Iya liat, kenapa emangnya Cut?”
“Nah, jangan pernah kasih tau nama bapak qe ke dia ya!  Walaupun di kasih uang 500.” Ujarnya dengan yakin, dan penuh gaya. Wajahnya benar-benar puas seolah-olah baru memberikan rahasia tingkat tinggi kepada anak baru yang minta ampun manisnya .(prĂȘt)
Aku hanya menganggukan kepala dengan serius. Well saat itu masih polos, dan hanya berfikir  bahwa nama orang tua merupakan sebuah rahasia paling tinggi yang harus di pegang. Dan anak lelki hitam nakal tadi adalah orang yang suka mengoleksi nama bapak ibu kami, barangkali di Sabang ada permainan siapa yang paling banyak mengoleksi nama bapak orang, entahlah sekali lagi duniaku masih terlalu hitam putih saat itu untuk mnegethaui bahwa nama bapak kita akan di jadikan semacam serangan untuk saling mengejek. Derajat pengejekan nama bapak adalah yang paling tinggi, jadi kalau kita bisa mendapat nama kedua orang tua kawan, maka kitalah pemenangnya. Kalau sekarang, saat bersama Rezcia dan teringat awal perkenalan kami dulu aku hanya bisa berfikir “Ini anak dulu pasti  kebanyakan nonton pilem deh, mana ada anak yang mau segitunya pengen tau nama bapak orang sampe rela-relain ngasih uang 500 perak.”
Well, setelah perkenalan itu kami langsung menjadi akrab. Rezcia adalah teman pertamaku dalam segala hal Aku masih ingat semua hal yang terjadi saat kami kecil dulu, saat kami bertengkar (well dia dulu sering menyebalkan sih, begitupun aku) ketika kami menguburkan burung gereja yang mati di belakang sekolah (sumpah ini bukan adegan film Bidadari, kami betulan dapet burung mati dan kemudian Rezcia berinisiatif untuk nguburin burung itu).  Saat Rezcia dengan baiknya nemenin aku pas aku sakit, (waktu itu aku muntah di belakang sekolah, dan takut banget di suruh pulang. Aku berhasil maksa rezcia untuk nggak cerita ke siapa-siapa). Saat kami main kasti di lapangan, beli hand ban sama-sama. Main buaya-buayaan, sama-sama pinjem komik, pokoknya semua kenangan menyenangkan di sekolah selalu ada  Rezcia deh. Heheheh. Rezcia, dengan segala hal baiknya dan hal buruk secara tidak langsung mengajarkanku tentang arti hidup, tentang segala hal indah semasa kecilku. 
Persahabatn kami berlanjut sampai kami masuk ke Pesantren, kami seperti anak kembar. Satu kamar, satu kelas, satu kegiatan, kemana-mana selalu berdua, antri makan berdua, nangis berdua. Bahkan Masuk mahkamah bahasa pun selalu berdua (kami paling bandel untuk ngmong bahsa Arab atau inggris soalnya).
 Ada satu pengalaman lucu yang paling aneh, saat hari pertama kami menginap di pesantren, ketika kedua orang tua kami pulang kami berdua menangis di depan kantor.
Bayangkan. Di pusat kegiatan, di hadapan abang-abang letting dan kawan-kawan yang hilir mudik sedang mengambil barang2nya, di depan orang-orang banyak kami duduk berdua di bawah pohon sentul sambil berurai air mata. Kami bahkan tidak peduli dengan orang-orang di sekeliling kami, ternyata efek perasaan ‘terbuang’ itu benar-benar mengerikan.
Pengalaman lucu lainnya adalah saat latihan baris- berbaris. Aku dan Rezcia benar-benar pembenci olah raga. Jadi saat aku berpura-pura hampir pingsan, Rezcia dengan sigap menangkap lenganku dan meminta izin ke kamar. Sesampainya di kamar kami beristirahat dan minum sepuasnya, yaah kami benar-benar nakal.
Kami juga sering bertengkar, dan marahan. Rezcia bisa menjadi orang yang paling baik, sekaligus menjadi orang yang egois dan paling menyebalkan. Begitu juga aku, aku bisa saja berubah dari seorang yang baik, ke orang yang paling nggak sabaran dan paling egois yang pernah ada. Maklumlah saat itu kami masih labil dan puber, jadi jati diri masih plin-plan, hehehe. Tapi, Berapa kalipun kami bertengkar, berapa kalipun kami marahan, tidak pernah, tidak  sekalipun dalam hidupku aku membencinya. Tidak pernah. Sampai sekarang. Karena apa? Karena dia adalah sahabat terbaikku, satu-satunya orang yang paling mengerti dan yang paling baik setelah keluargaku.
Kami pernah bertengkah hebat saat masih Mtsn, penyebabnya aku tidak tahu kenapa (lupa!! Hehe). Awalnya hanya adu mulut biasa lalu berlanjut sampai puncaknya adalah saling melempar sisir, suasana benar-benar tegang saat itu. entah karena terlalu emosi karena aku begitu menyebalkan, Rezcia melemparkan sisirnya ke atasku. (Nggak kena kok, dia masih baiklah), aku juga nggak mau kalah dan ikut melemparkan sisir itu ke arahnya. Sisir itu mengenai tempat tidurnya dan terpental. Kami saling menatap dan marah, teman-teman sekamar sampai diam dan nggak tahu harus bagaiman. Karena kami jarang bertengkar sehebat itu.  Saat itu kami sama-sama sedang labil, rindu rumah, benci di tinggal di Pesantren oleh orang tua kami, masih egois dan emosian. Masing2 tidak mau kalah dan tidak mau menangis.  Sepanjang ingatanku itulah pertengkaran kami yang paling hebat, aku membanting sebuah binder kecil pemberiannya tepat di hadapannya. Rasanya puas sekali saat  melihat dia tercengang, matanya sudah merah, dan berair begitu juga mataku. Lalu setelah menyemprotku habis-habisan (begitulah Rezcia, selalu marah-marah langsung di depan orangnya) dia langsung pergi dengan marah. Masih sempat kulihat ia menyeka matanya dengan punggung tangannya (khas Rezcia kalau nangis dulu). Mendadak aku menyesal dan ikutan menangis. Rasanya seolah-olah aku tinggal sendrian di tempat paling asing, dan sama sekali tidak punya teman, padahal selain rezcia temanku juga banyak. Perasaan ini selalu timbul saat aku bertengkar dengannya. Saat melihat dia pergi, aku sadar betapa aku menyayangi orang egois itu.
Persahabatan  indah ini (week, mual aku dengernya hehehe  (tapi emang betul, cuma aku ngga terlalu bagus dalam hal-hal melodrama gini)) memang sempat renggang. Selama periode kelas 2 dan 3 Mtsn kami sudah tidak terlalu dekat lagi, kemana-mana tidak selalu berdua, meskipun masih sering ngunjung ke kamar masing-masing, jarak kami mulai jauh. Mungkin karena faktor kelas dan kamar yang terpisah. Tapi anehnya walaupun kami berjarak, bagiku Rezcia tetap sahabatku. Tidak ada yang berubah antara kami, dia masih salah satu orang terdekatku, walaupun secara harfiah kami tidak dekat lagi seperti dulu. Bahkan saat aku pindah dari Pondok dan melajutkan SMA di Man Model, dan Rezcia tetap tinggal sana.  Walaupun kami jauh, tidak berkomunikasi sama sekali hampir selama 2 tahun lebih (sangat jarang, paling ucapin selamat lebaran atau sekedar nelpon bentar) tapi bagiku dia tetap sama, aku tidak merasa jauh, bagiku dia tidak berubah menjadi orang lain, dia tetap sama, tetap sahabat ku. Aku tidak tahu kenapa, aku bahkan tidak bisa menjelaskannya. Mungkin saja keterikatan semenjak kecil itu cukup aneh, konyol dan absurd. Heheheh.
Mengingat persahabatn kami dulu, saat ini segalanya sudah banyak berubah. Jika 12 tahun yang lalu kami membicarakan doraemon and the gank, maka sekarang kami sibuk bergosip tentang One Direction. Kalau dulu waktu SMP kami sering membicarakan tentang-tentang tokoh-tokoh film yang ganteng-ganteng (Daniel Radclief, and the gank) maka sekarang kami membahas tentang ‘calon’ pasangan cinta sejati masing-masing (preet). Yaah, seiring bertambahnya umur makin bertambah pula kedewasaan kami, segala hal berubah, kami tidak sering bertengkar seperti semasa SD, sudah sering mengalah, pokoknya berubah deh.
Dan seorang Rezcia juga semakin berubah, dia jauh lebih dewasa, dan matang dalam segala hal. Proses sosialisasinya yang dari dulu sudah baik bertambah baik, sifat egonya? Hilang tak berbekas, Rezcia berhasil tumbuh menjadi seorang yang baik di semua hal, hanya saja dia masih sering tidak percaya diri, contohnya saja dalam music, padahal dia berbakat di bidang tersebut. Kami sekarang memandang dunia tidak lagi hitam putih, semua ada konsekuensinya, bahkan sampai sebesar sekarang setelah 12 tahun lamanya Rezcia masih bisa mengajaranku hal-hal yang tidak pernah aku duga. Proses sosialisasi misalnya. (aku benar2 payah dalam hal itu).
  Tapi di balik semua perubahan itu, ada satu yang tidak akan pernah berubah, bahwa persahabatan ini akan selalu ada, tidak peduli seberapa jauh kami berpisah, dan seberapa sering kami berkomunkasi. Bagiku tidak pernah ada yang berubah atas persahabatan ini, Rezcia selalu menjadi salah satu best guy dalam hidupku, orang terbaik yang pernah aku kenal, dan sahabat terhebat. Selalu sama, seperti 12 tahun yang lalu. Selalu. 





1 komentar:

  1. ha ha ha itu satu ucapan untuk kalian berdua

    aku penasaran bget dengan cerita2 lain tentang kalian (meski aku sudah tau secuil)
    so aku tunggu cerita selanjutnya ya...
    atau dinovelkan ajha...
    biarkubantu menjadi narasumber tambahan wk wk wk

    BalasHapus

Copyright © 2015 maycut on post