Rabu, 24 April 2013

Sebuah sudut pandang


Sudut Pandang.
Sering menonton film spiderman? Sering pastinya. Film ini telah puluhan kali diputar di berbagai stasiun televisi, dan aku juga  telah puluhan kali  menontonnya. Tapi , baru  malam ini aku mendapatkan satu pelajaran moral yang sangat penting dari sebuah film. Sebuah sudut pandang baru. 
Nah mari ingat ini baik-baik. aku yakin kalian semua pasti telah menonton Spiderman 3, puluhan kali bukan? (Please don’t say no!!!), jadi kalian pasti ingat adegan saat Peter Parker bertemu dengan Marry Jane di sebuah jembatan di taman. Saat itu Marry Jane mengatakan satu hal penting. MJ mengatakan kalau dia tidak mencintai Peter lagi, Peter kecewa, padahal Harry Osborn (penerus Goblin) lah yang mengancam MJ untuk memutuskan Peter demi menjamin keselamatan Peter.  
Jadi begini lah kira2 kejadiannya
Harry  = menyuruh MJ untuk memutuskan hubungan dengan Peter dengan ancaman nyawa Peter.
Mj       = Memutuskan Peter, karena ancaman Harry
Peter  = Tidak tahu apa-apa dan merasa sedih karena di putuskan secara tiba-tiba (dia patah hati)
Penonton = ambil kripik, ngunyah.. (krauk.. krauk..krauk..)
Nah, aku bukannya ingin menjelaskan apa yang terjadi dalam film itu, tapi apa yang menjadi sudut pandang mereka bertiga. Kejadian itu jika di lihat dari sudut pandang mereka maka jadinya akan seperti ini
Harry = Memandang kejadian itu sebagai sebuah kemenangan/kesuksesan terhadap rencanya.
MJ      = Memandang kejadian itu sebagai sebuah pengorbanan agar Harry tidak mencelakai Peter.
Peter  = Memandang kejadian tadi sebagai peristiwa paling buruk yang terjadi dalam hidupnya.
Penonton = Memandang ke cemilan (halah, adegan tu ga seru.)
Nah, Apa yang dapat kita simpulkan?

Ketika aku mengikuti rapat di sebuah organisasi. Kakak pembinannya menyuruh kami untuk melihat handphone yang berada di tangannya. Saat itu kami duduk secara melingkar. Kakak Pembina tadi bertanya “Apa yang kalian lihat?”
“Handphone” jawab kami dengan bodohnya.
“Kamu..” ujarnya sambil menunjuk salah seorang yang duduk tepat di depannya. “Apa yang kamu lihat?”
“Lcd, kak” jawabnya.
“Good, nah kamu. apa yang kamu lihat?” tanyanya pada salah seorang yang duduk di samping.
“Bagian samping hp kak.” Jawabnya.
“Nah, beda tidak jawabannya?”
“bedaaaa!”
“Ada berapa sudut pandang yang kalian dapat?”
“banyak kaak.”
“Begitu juga dengan berita. Dalam sebuah kejadian, ada berbagai sudut pandang yang berbeda, tergantung dari arah mana kita melihatnnya.”
Saat itu aku memang mengikuti rapat tentang liputan berita di sebuah majalah kampus. Meskipun kakak tadi menjelaskan tentang sudut pandang berita, tapi ternyata begitu juga dengan kehidupan. Dari sudut pandang manakah kita melihatnya?
Saat itu aku sadar. Kita tidak bisa menjudge sesuatu hanya dari sudut pandang kita.
Lihatlah lebih dekat.
Dalam kehidupan, kita sering dihadapkan pada situasi saat sesorang berbuat salah pada kita. Pertengkaran terjadi, saling memarahi, bermusuhan, dan akhirnya tidak berteman lagi. Atau kembali berbaikan, dan mengulangi proses yang sama pada minggu berikutnya.
Kita tidak pernah terlepas dari kesalahan, begitu juga dengan orang lain. Semua pernah melakukan kesalahan, dan semuanya memilki penyebabnya masing-masing. Setiap orang memilki masalah, ada yang berat dan ada yang ringan. Sekarang cobalah melihat setiap kejadian dari arah yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda, tidak hanya dari sudut pandang kita.
Dalam kehidupan nyata, ada dua arah dalam melihat sudut pandang sebuah kejadian, masalah, ataupun situasi. Yaitu arah positif dan negatif. Saat kita melihat dari arah positif, maka kita akan melihat sudut pandang –sudut pandang yang baik , berbeda, dan hati kita akan lebih ikhlas dalam menerima semua kejadian (masalah) tadi. Akan tetapi, jika kita melihat dari arah negatif, maka yang akan kita lihat adalah sudut pandang keburukan, segala dakwaan, segala kejahatan, dan timbulah dendam yang membuat kita stress, sakit hati, marah, kecewa, putus asa, dll.
Ketika kita dihadapka pada satu kejadian, lihatlah dari sudut pandang yang berbeda. Pertanyakan, kenapa masalah ini timbul, apa alasannya? 
Beberapa minggu  yang lalu aku menjemput adikku di sekolahnya. Pada tengah hari, dan melewati ruas jalan yang luar biasa macet. Akan tetapi saat sampai di sekolah dan setelah menunggu agak lama, seorang temannya mengatakan kalau adikku baru saja pulang dan tidak mengikuti les tambahan. Kontan saja aku marah, karena dia bahkan tidak memberitahuku, saat aku meneleponnya hpnya tidak aktif. Sepanjang jalan aku benar-benar marah dan kesal. Aku bahkan tidak memikirkan alasan lagi kenapa adikku bisa seperti itu. sesampainya di rumah, saat aku terburu-buru masuk ke kamar dengan wajah siap perang, aku malah mendapatinya sedang ngupil (becanda ding) hohoho, sedang tidur. 
Dalam hati, ini orang, udah capek-capek di jemput, ga kabarin, panas, laper, dia malah enak-enakkan tidur. Saat aku ingin membangunkannya (masing dengan wajah perang) datanglah bidadari dari surga. (ehm ibuku maksudnya)
“Eh, jangan di ganggu cutkak (panggilanku saat di rumah), kasian dek Intan, maaggnya kambuh, tadi panas-panas pulang sendiri dia naik labi-labi, nyanyak (ibuku) belum pulang jadi nggak sempat jemput dia, hpnya matipun, jadi nggak bisa sms.” Ujar ibuku tenang. (karena nggak melihat wajah penuh ajakan perang dariku,  kalau nggak mana ada tenang)
Tiba-tiba saja, nafsu ingin berperang tadi luntur. Rumahku cukup jauh dari jalan raya, jadi dari jalan raya adikku yang sedang sakit ini, harus berjalan panas-panas untuk sampai kerumah. Rupanya dia tidak sanggup lagi untuk mengikuti les, makanya pulang lebih cepat. Semua amarah sepanjang perjalanan tadi, hilang dan tiba-tiba saja aku menyesal.
Ada begitu banyak kejadian yang membutuhkan sudut pandang- sudut pandang  baru, agar kita tidak terjebak pada emosi yang hanya akan merugikan diri kita sendiri.
Sebagai contoh, saat kita diputuskan pacar, disakiti, dikhiantai, kita akan merasa sakit hati. Nah, jangan teburu-buru melihat dari sudut pandang kita. Lihatlah dari sudut pandanganya. Kenapa dia memutuskan kita? Apa yang salah? Kenapa dia berkhianat? Kalau memang jawabannya adalah karena dia bosan, memang orang yang jahat, yaa lihatlah kejadian itu dari dua arah. 
 well ketika kejadian patah hati itu dilihat dari arah positive.
Bahwa ketika kita diputuskan olehnya, bukaknkah kita terhindar dari orang yang jahat? Bahwa kita mendapatakan sebuah pelajaran yang baik? bahwa ternyata dia tidak sebaik yang kita kira, kenapa memang kalau putus? Lebih baik sakit hati sekarang ketimbang nanti, sekarangmasih ada kesmpatan untuk memperbaiki, kalu nanti tidak ada yang tahu. Bla-bla.. hati tenang dan riang, masa depan cerah gemilang.
Dari arah negative.
Kenapa gue diputusin? Emang apa lebihnya sih pasangan baru dia? Sebaik apa sih? Sebaik gue? Jahat bangeeet… gue udah bekorban selama ini ke dia, gue cintaaaaa matiiii.. huaaa.. skit hati guee, sakiiiiit. Bla-bla.. galau, gundah gulana, nilai turun, penampilan hancur, masa depan suram, hanya karena seseorang yang bahkan tidak memikirkan kita lagi.
Nah, silahkan memilih anda akan melihat dari sudut pandang mana?
Intinya adalah ketika kita dihadapakan pada situasi terburuk dalam hidup, atau masalah atau sebuah kejadian yang mengerikan, jangan terburu-buru terperosok pada lubang hitam kesuraman. Tapi lihatlah lebih dekat, lihat lagi alasan kenapa kejadian itu bisa terjadi pada kita. Jika tidak ada alasan, maka lihatlah dari dua arah, hasilkan sudut pandang-sudut pandang baru yang dapat membuka pikiran kita. Bandingkan, arah mana yang kita ambil dalam melihat sudut pandang itu, positifkah? Atau negatif? Semua tergantung pilihan kita dalam menentukan arah.
Seperti cerita Spiderman tadi, jika Peter mau memikirkan kembali kenapa Mj tiba-tiba memutuskannya mungkin dia akan tahu bahawa MJ di ancam oleh sesorang, atau kalau dia memang tidak tahu, mungkin dia bisa melihatnya dari arah positif, bahwa MJ bukan jodohnya, mungkin dia memang lebih baik berpisah dengan MJ , dan mungkin liburan ke Aceh misalnya dll. (hoho) 
Yang jelas, segala sesuatu memiliki alasannya, kenapa masalah itu timbul, kenapa ada kesalahan, pertanyaan “kenapa” selalu memiliki jawaban “karena”, jadi sebelum kita meraung-meraung karena sebuah masalah, atau kesalahan, tanyakan dulu “Kenapa” , kemudian lihatlah dari sudut pandang yang berbeda, tidak hanya dari sudut pandangan kita. Tentunya dengan arah yang baik dan benar, jika kita mampu menyaring apapun yang menimpa kita dengan melihat lebih dekat, maka hidup tidak perlu terlalu dipermasalahkan bukan?
Semoga bermanfaat..  :)
Cut may.

gambar : http://vi.sualize.us/


4 komentar:

Copyright © 2015 maycut on post