Senin, 12 Agustus 2013

Im not weird, Im just limited edition.

I don’t know why.. 


Bisakah air mata mengalir begitu saja, baru kita merasakan kesedihan?
Aneh sekali bukan yang namanya perasaan itu. ?
Selama 20 tahun terakhir hidup ini, aku sudah menjumpai banyak orang dengan berbagai karakter. Aku sudah pernah diejek, di permalukan, disayangi, dimarahi dan lain-lain.
Menjadi seseorang yang aneh, adalah hal yang biasa. Banyak teman-temanku yang mengatakan aku aneh. Its fine, I feel that I am different.
Tapi, hari ini air mataku tumpah sendiri. suatu hal yang memalukan mengingat aku sudah jarang menangis semenjak usia 10 tahun. Apalagi hanya karena perkataan dari seseorang. Yaah, sesorang yang penting tentu saja, maksudku ini konyol. Aku menangis karena malu, -bukan marah atau sedih dan padahal aku susah sekali menangis- Dia ribuan kali mengatakan kalau aku ini aneh, tapi baru kali ini rasanya berbeda.  Ayolah, dia itu sahabat baikku sendiri, lebih malah.
Well, sejujurnya aku tidak sedih, hanya malu. Dia adalah orang yang…. Yah, hebat, perfect, dan baik. Sedangkan aku… yah itu aku. Aku tidak harus memakai kata apa untuk mendeskripsikan diriku sendiri.
Aku tidak marah, hanya malu. Karena begitulah aku. Aneh.
Keanehan itu yang membuatku malu.
Dulu, aku befikir menjadi aneh itu sama sekali tidak masalah. Aku tidak peduli, apakah orang lain menyukaiku atau tidak, sepanjang aku bersikap baik dan selalu menjaga perasaan orang lain, keanehanku sama sekali tidak berpengaruh. Aku pikir.
Yaa, aku tahu setiap orang berbeda. Tapi, “beda” itu kan dihitung dari sama atau tidaknya seseorang dengan orang lingkungannya. Nah itulah aku.
Di keluarga, aku berbeda.
Di lingkunganku juga berbeda.
Dalam suasana sekolah/kampus juga berbeda.
Keluargaku semuanya cekatan, aku? Luar biasa ceroboh.
Teman-teman disekeliling rumahku, semuanya kompak, jalan-jalan pagi, kumpul-kumpul remaja mesjid, jalan-jalan sore. Dan aku memilih untuk tidak ikutan, hanya karena aku terlalu kikuk untuk bergaul –pembelaan, aku baru pindah ke lingkungan ini, dan aku tidak terlalu kenal dengan anak-anak sekitar rumahku.
Kampus….
Ketika semua orang jago dalam berdiskusi dan presentasi, aku lebih memilih diam. Aku punya pendapat, jangan salah. Aku membaca buku –maksudku yaah aku tidak 100% bodoh –aku hanya tidak mengungkap dengan benar apa sedang  aku aku fikirkan ketika berhadapan dengan khayalak ramai.
Well, karena aku adalah tipe interpersonal, maka aku dengan mudah bisa mendeteksi apa yang menjadi kekurangan dan kelemahan dalam diriku –dilarang protes, ini memang kemampuan orang2 interpesonal kok.
Setelah aku fikirkan secara matang, permasalahanku terletak pada…. 
Aku terlalu banyak berfikir.
Aku selalu berfikir bagaimana reaksi seseorang terhadap apa yang aku sampaikan. Secara psikologis, aku tahu persis bagaiamana rasanya diperlakukan (dibully) tidak adil hanya karena kau aneh. (lain kali aku akan menceritakan tentang masa kecilku). Ketika kau berbeda, orang-orang jadi lebih memperhatikanmu, dan aku benci menjadi pusat perhatian. Jadi, aku terbiasa untuk benar-benar berfikir bagaimana caranya untuk tidak terlihat aneh, yang ironisnya malah membuatku menjadi semakin aneh.
Sebelum berbicara, menyampaikan atau melakukan sesuatu aku selalu berfikir, apakah seseorang ini akan menerimanya menolak atau bagaimana responnya. Karena itulah aku menjadi ragu, dan saat menyampaikannya aku terlihat tidak percaya diri, kikuk dan ceroboh (kasusnya ketika aku melakukan sesuatu), maka yang terlihat malah, aku semakin aneh, dengan semua sikap tidak percaya diri tadi dan keraguan tadi. Dan semua orang tahu, suatu hal yang dilakukan dengan keragu-raguan tidak akan berhasil dan hanya akan memperburuk keadaan.
Iya -iyaa aku tahu. Itu memalukan.
Tapiiii, untuk orang-orang terdekat. Aku sama sekali tidak perduli, aku tidak harus menjadi siapa-siapa bagi mereka. Toh mereka bakalan menerimaku apa adanya, tidak masalah seaneh apapun aku.  Di dekat mereka aku tidak harus berfikir, aku tidak harus menimbang dan memutuskan harus bagaimana menghadapi mereka, toh apapun responnya tetap sama saja, aku tetap orang yang sama bagi mereka. Dan karena itu aku luar biasa percaya diri dihadapan mereka.
Mmmm..
Tuing..
Dan, akhirnya aku tahu jawabannya.
Aku hanya harus menerima diriku sendiri. apa adanya.
Aku tidak harus memikirkan orang lain, apa respon mereka, mereka menerima atau tidak. Yang harus aku lakukan hanya bersikap baik, selalu berusaha menjadi lebih baik. kalau memang kita berbuat salah, kita aneh, memangnya kenapa? Toh tidak ada yang sempurna bukan?
Sikap dan perilaku bukan tergantung bagaiman respon orang lain. itu tergantung dari bagaiman kita bersikap. Kalau kita bersikap baik, dan orang lain malah berfikir lain, itu hanya terletak pada sudut pandang mereka. Tidak ada masalahnya dengan kita. Masalah kita hanyalah, BERSIKAP BAIK terhadap sesama.
Semua manusia aneh, bedanya denganku adalah mereka memaafkan diri mereka sendiri atas kesalahn-kesalahn dan keanehan-keanehan mereka. Karena itu mereka percaya diri, dan untuk menjadi seperti itu aku hanya harus menerima diriku apa adanya, baru orang lain akan menerimaku apa adanya.
Manusia itu aneh, penuh dengan ketidaksempurnaan. Tapi bukankah itu yang membuat kita disebut “MANUSIA”. Jangan pernah merasa minder, karena Allah- lah yang menciptakan ketidaksempurnaan itu, dan percayalah Allah tidak menciptakan sesuatu secara sia-sia.
Dan itu berarti kita juga bukan sebuah kesia-sian bukan? Bahkan, se-aneh apapun kita. 
Semoga bermanfaat.

Ps: karena inilah aku suka sekali menulis. Semakin aku menulis, pekikiranku semakin terbuka. Dan jalan keluar kini terhampar sudah.
*hapus air mata, posting.. posting..
*thanks buddy.. untuk semuanya..
love u.




5 komentar:

  1. dear, however u r, I like u... :D

    Don't be sad, you're amazing just the way u are... For me, u a great friend and u always 'll be... :)

    BalasHapus
  2. @baraaah : thank you so much dear..

    me too..
    you are always be my baraah.. the coolest one..
    luv u.. :)

    BalasHapus
  3. @dendy kerangge : :P

    at last I get the answer.. bca smpai hbs donk.. -_-

    BalasHapus

Copyright © 2015 maycut on post