Senin, 05 Mei 2014

Cry me a river.


            Ada satu hal yang baru aku sadari, menangis itu melelahkan sekali ternyata.
Sumpah, capek banget. Dan juga melegakan. Syukurlah.
            Aku jadi ingat, dulu waktu aku kecil abang2 sepupuku sering kali mengatakan hal ini kepadaku “Jangan cengeng sa, jangan kayak anak cewek. Kalau cengeng ga usah main sama kami!” selalu, setiap kali aku minta ikut mereka main, syarat utamanya adalah tidak boleh cengeng, kalau jatuh jangan nangis, kalau berantam jangan nangis, kalau luka jangan nangis, kalau di marahi jangan nangis, kalau kalah main jangan nangis. Nangis itu kayak cewek, jelek, anak cowok ga nangis. Entah mereka lupa aku ini cewek , atau hanya malas meladeni sikap cengengku yang overload, jadi karena saking takutnya tidak di ajak main oleh sepupu-sepupuku, aku pun berusaha setegar mungkin. Saat itu umurku hampir 8 tahun (sekitar kelas 3 SD), hampir tidak punya teman sama sekali (aku payah dalam semua permainan), dan tentunya pergi main ke lapangan, sungai, mencari mangga, minum limun sepuasnya, dan ke sawah, itu adalah salah satu petualangan yang paling seru, makanya aku rela membayar dengan apa saja asal bisa mengikuti mereka kemana saja. Dan tidak cengeng adalah salah satu syarat yang paling gampang.
             Mungkin karena menangis itu dikonotasikan dengan hal yang memalukan sejak aku kecil, makanya bahkan sampai sekarang aku jarang sekali menangis.
             Tapi, malam ini aku hancur lebur deh. Kolaps, oleh sakit hati.
Benar-benar aku kapok untuk berharap yang muluk-muluk dan merencanakan sesuatu yang “beyond of imagination”. 
             Goodbye my PARADOKS.
             Goodbye expectation.
Jadi malam ini terjadilah.
        Aku menangis, bukan menangis yang air mata hanya keluar setitik dua titik karena sedih, tapi jenis tangisan sakit hati, yang bercampur dengan sedih, kecewa dan marah yang menyesakkan, dan kau harus mencengkram perut kuat-kuat saking sakitnya perasaanmu.
           Aku paling benci jenis tangisan ini. Sungguh amat sangat melelahkan deh, semuanya yang berkonotasi negatif ada, sedih, marah, sakit hati, kecewa. Jika orang biasanya menangis hanya karena satu alasan, maka aku menangis karena kelima alasana tadi.
Terdengar familiar? Yah, kalau kau sering patah hati, mungkin tangisan itulah yang kau rasakan.
Hatiku memang patah, hancur lebih tepatnya.
Dan setelah hampir satu jam terisak-isak tanpa kejelasan, aku bangun dan kembali bangkit. Jujur saja, aku muak menangisi sesuatu, seseorang atau terserah lah, yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang kondisiku. Maksudku, aku tidak semenyedihkan itu.
Hampir.

Jadi aku bangun, memercikan air ke wajah, dan bercermin, dan…
Sial! (eh, apa aku baru saja memaki? )
Karena seseorang yang sangat kacau baru saja memandangiku dengan aneh di balik cermin sana. Dengan wajah pucat, mata merah, bengkak dan hidung yang beringus. Ya ampuun, aku benar-benar kacau balau.
Jadi, cepat-cepat aku membereskannya dan menuliskan ini.
Atau bisa-bisa aku kembali menangis di kamar mandi.
Hei, kalau kau kehilangan sesuatu yang kau rencanakan dari bulan januari, dengan penuh tekad, dan kehilangannya sekarang, kau bakalan meraung-raung setengah mati juga. Aku bahkan mulai menangis lagi sekarang. Dan rasanya, aku cukup lelah menghadapi sesuatu yang aku kira bisa aku hadapi.  Sesuatu tentang perasaan, yang sangat amat melelahkan.  Ada kalanya kita harus menyerah, saat kita lelah meminta, saat kita lelah di abaikan.
        Yaah, ada jalan lain yang bisa kita tempuh bukan?
Aku rasa, ada untungnya juga menangis. Sekarang aku bisa berfikir jernih, kenapa aku harus mengejar sesuatu yang tidak terkejar?
         Kenapa harus menangisi orang yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang apa yang kita rasakan?
Aku pernah menonton sebuah film, di situ di jelaskan bahwa kesedihan itu ada 5 tahapan.
Kemarahan – kesedihan -penyangkalan –depresi –dan fase memulihkan diri.
Malam ini  aku melewati semua fase itu sekali jalan. Dan setelah lelah menangis, sekarang saatnya sadar. Bahwa, mungkin lebih baik aku menyerah, atau berusaha lebih keras. Apapun pilihannya, aku lah yang menentukan.
          Aku memang kehilangan proyek besarku PARADOKS-ku, aku mungkin terbabaikan, aku mungkin menyedihkan. Tapi hanya malam ini, setelah ini aku berhenti. Berhenti menjadi menyedihkan, dan aku akan berhenti dari segala perasaan menyakitkan ini.

Hei, tenyata kadang-kadang ada untungnya juga menangis.
     

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 maycut on post