Rabu, 29 April 2015

#Berani lebih sering menghabiskan jatah gagal untuk sukses.

#Berani lebih sering menghabiskan jatah gagal untuk  sukses.
                Aku selalu bertanya-tanya apakah memasak itu adalah sebuah bakat?
               Soalnya, bagi sebagian orang memasak adalah sebuah proses kreatifitas yang menghasilkan  master piece. Sedangkan bagiku, memasaka adalah sebuah kekacauan yang parah. Saking parahnya, aku dilarang secara penuh untuk mencoba resep-resep baru atau memasak sesuatu oleh ibuku.
                Aku kan tidak sebodoh itu, maksudku siapa saja bisa masak kan? Lihat saja tikus di film ‘Ratatouille’, dan ibuku hanya balas melotot saat aku mengatakan begitu padanya.
                Yeah, jujur saja. List kegagalanku sudah cukup banyak.
Aku pernah saat pertama kalinya mencoba memasaka tumisan wortel-kentang, yang pada akhirnya berubah menjadi tumisan rasa lada karena kebanyakan lada putih. Dengan seorang teman aku pernah membuat kroket isi kentang yang kemudian aku kacaukan karena kelupaan garam (dan rasanya seperti gabus), yang terakhir aku pernah membuat donat yang karena takaran ragi dan air dinginnya tidak pas malah menjadi monster lembek yang terus menerus mengembang. Aku mencoba menyimpannya di dalam kulkas dalam wadah yang tertutup, tapi tutup wadah itu malah terbuka dan adonannya terus mengembang dengan mengerikan. Dan kini, setiap kali aku memasakkan sesuatu, orang-orang dirumah akan selalu saling melirik satu sama lain, seolah-olah memastikan dulu apakah makanan itu aman dimakan atau tidak.
                Iya. Hidup memang kejam.
                Tapi, dengan semua trek record kegagalan tadi, aku masih tetap suka memasak. Dan meskipun sudah tidak sering, masih gagal beberapa kali. Dan, aku hampir berhenti mencoba.
Sampai aku membaca kisah tentang Micheal Jordan.  
Michael Jordan, pemain basket termahal di NBA pernah menangis di ruang ganti karena dikeluarkan di Tim basket sekolahnya saat SMA. Kini ia menjadi pemain termahal yang pernah di miliki tim NBA Amerika. Dia bahkan mengatakan “Saya telah meleset sebanyak 9000 tembakan selama karir basket. Saya telah kalah hampir 300 pertandingan. Dalam 26 kesempatan saya dipercaya melakukan tembakan kemenangan dan gagal. Saya telah gagal, gagal, dan gagal lagi sepanjang hidup saya. Dan itulah sebabnya saya sukses.
Setelah membaca kisah-kisah tadi, aku paham bahwa setiap manusia itu memiliki jatah kegagalannya sendiri, tapi hanya sebagian orang berani menghabiskan jatah kegagalannya. Orang-orang cenderung takut gagal dan terbiasa nyaman dengan kondisi yang aman, tercukupi. Mereka berfikir bahwa kondisi aman itulah sukses. Tapi tidak. Untuk mencapai kesuksesan dibutuhkan kegagalan. Gagal tidak membuat kita menjadi lemah, justru membuat kita paham dengan kekurangan dan kesalahan. Kegagalan membuat kita memahami arti kerja keras, kegagalan membantu kita mengerti bahwa proses adalah sesuatu yang menyenangkan. Pengalaman menunjukkan  bahwa untuk sukses setiap orang memerlukan waktu, kerja keras, ketekunan dan keyakinan atas apa yang dilakukannya.
Jadi, disinilah aku. Setiap hari secara diam-diam memakai dapur, saat ibuku mengajar ke sekolah. Mencoba berbagai resep baru. #Berani lebih sering menghabiskan kegagalanku, hingga suatu hari nanti aku akan punya cerita tentang“Ibuku bahkan tidak pernah mengizinkanku memegang pisau di dapur”  di salah satu buku inspiratif lainnya. Well, kita tidak pernah tahu bukan? 
Jumlah kata : 461
Twitter : @may_cut
Tulisan pendek ini diikutsertakan pada    #BeraniLebihLight of  Women.


0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 maycut on post