Sabtu, 08 Agustus 2015

Racauan Pertama

Baiklah.
Malam ini segalanya akan dimulai kembali. Seperti bayi 10 bulan yang kembali belajar berjalan kini aku akan tertatih belajar kembali menulis. Jangan tanya kenapa. Mungkin aku sudah muak dengan janji-janji kosong yang kerap kali kulemparkan untuk menggombali diri sendiri, serta mulai bosan mempertahankan penyakit "menunda" yang sudah sangat kronis menggrogoti tubuhku sekian lamanya.
Akhirnya dengan kesadaran yang penuh aku bangun dari bangku penonton yang pasif, menjadi pemain aktif lakon tulis-menulis ini.

oke. Aku mulai meracau.
Jadi, aku sadar bahwa satu-satunya terapi yang aku miliki untuk mengontrol pikiran yang melaju cepat ini adalah menulis. Aku bukan orang yang sabaran. Dan sialnya malah sangat sabar kalau menyangkut pekerjaan dan juga -ehm, Skripsi. (Aku ngetiknya sambil tahan nafas loh).
Seringkali aku akan melaju sendiri dengan pikiran-pikiran ruwetku. Kalau sedang kumat berbicara pun malas. Aku hanya akan menggumam tidak jelas. Jadi inilah terapiku.
Menulis.
Sadar atau tidak, menulis membantuku bersabar. Aku harus menahan laju informasi yang ingin aku sampaikan secara perlahan melalui gerakan tangan, baik itu menulis atau mengetik. Terkadang saking cepatnya pikiran atau ide yang ingin aku tulis aku lupa mau menuliskan apa. Jalur pikiran jutaan kali lebih cepat ketimbang jalur fisik yang lamban.

Oke. Mulai meracau lagi.
Jadi, sebagai orang yang tidak sabaran, aku menulis postingan ini sambil sms-san dengan Paradoks, dan membaca Petir. Aneh bukan?
Tidak bagi manusia tidak sabaran seperti aku. Sambil menunggu Paradoks membalasa sms aku mengetik. Bosan mengetik aku membaca Petir yang tidak bisa aku tinggalkan semenjak kujemput dia dari rumah Al tadi siang.

Oke. Jadilah malam ini aku meracau habis-habisan. Dari tadi aku ingin menceritakan kenapa aku mulai menulis kembali tapi yang kutulis malah seabrek informasi yang kurang jelas. Dan tidak nyambung.
Tetapi tak apalah, anggap saja ini adalah mula. Menulis memang sebuah proses, dan proses membutuhkan waktu.

Juga keinginan.

Mungkin suatu saat nanti di masa depan, jika ada umur panjang dan kesematan saat aku kembali membaca postingan ini aku bakalan kepingin sekali menembak kepalaku sendiri yang di masa sekarang. Tapi, diriku yang di masa depan nanti juga akan mengerti.

Ini adalah mula. Mula dimana aku ingin berubah, mula dimana aku belajar merangkak, kemudian berdiri dan bisa berlari. Mula dimana aku berjudi dengan takdir, apakah target yang aku pasang bisa aku menangkan atau aku akan kembali kalah taruhan.

Yup. Mulai malam inilah racauanku dimulai.
Selamat menikmati.
*menunggu lemparan tomat.  XD


1 komentar:

Copyright © 2015 maycut on post