Rabu, 09 November 2016

Keping-keping Nasionalisme.


Keping-keping Nasionalisme.
Nasionalisme. Bagi saya pribadi, ia adalah keping-keping puzzel yang terserak di sepanjang Negeri ini. KBBI bisa menjelaskannya menjadi lebih mudah dengan pengertian “Cinta tanah air, bersifat kebangsaan dan lain-lain”.
 Secara teoritis, kata “cinta” yang digunakan KBBI adalah kata kerja yang selalu memiliki makna absurd yang tidak mudah dijelaskan oleh siapapun. Sama halnya dengan teka-teki, mereka sama-sama misterius dan hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang dapat memecahkannya dalam proses yang dinamakan pencarian.
Pencarian itu tentu saja tidak mudah.
Bukan dengan bantuan search engine, buku ataupun Televisi. Bagi saya, Nasionalisme tidak akan kita dapatkan melalui google, buku-buku sejarah kebangsaan, film ataupun cerita-cerita rakyat yang selama ini kita dengarkan. Untuk mendapatkan Nasionalisme kita harus berkenalan dengan Indonesia secara langsung. Menapaki gunung-gunungnya  yang membentang, berenang dan menyelami laut-lautnya, menyapa penduduknya dengan keramahan, menghirup udara-udara di setiap daerah yang berbeda. Mencicipi langsung setiap gurihnya rempah dan membalas senyuman dengan senyuman. 
Dan seperti halnya cinta, saya mendapatkan kesadaran itu ketika telah menjalaninya.
Ketika saya berumur 7 tahun, Borobudur pernah menjadi sebuah obsesi paling menakjubkan bagi saya. Saat itu saya ingat, saya menemukan Borobudur sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia di sebuah buku. Rasanya mungkin itulah cinta, sampai kemudian anime Jepang menampilkan menara Tokyo, BBC dengan istana Buckingham,  dan berbagai macam pemandangan kota-kota dunia yang lebih indah ketimbang sebuah candi batu yang berumur ratusan tahun yang lalu. Obsesi Borobudur telah tenggelam dalam obsesi-obsesi dari London dan Africa.
Sampai kemudian Mei 2015, saya melakukan sebuah perjalanan ke Jogjakarta. Kota paling eksentrik, yang menjaga kebudayaan sama halnya seperti menjaga nafas kehidupan mereka sendiri.
Untuk pertama kalinya saya melihat Borobudur secara langsung. Rasa bangga yang tiba-tiba menyusup dan kemudian membludak menjadi buncahan energi baru muncul setiap kali saya menyentuh pahatan rumit di sepanjang dindingnya. Kekaguman itu terus muncul ketika saya menaiki setiap anak tangganya dan meledak menjadi bangga ketika sampai di stepa tertinggi. Saat itulah saya berfikir, semua cerita, video dan foto-foto majalah tidak apa-apanya jika dibandingkan dengan ini semua. Bagi saya, Borobudur adalah sebuah ledakan imajinasi purba yang membuktikan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang bena-benar besar dengan kebudayaanya.
Semua pengalaman yang saya rasakan selama di Jogja adalah nyata.
Seminggu di Jogja saya yang semula adalah penyepi kini benar-benar terbiasa untuk membalas setiap senyuman ramah yang selalu mampir setiap kali mata bertemu dengan mata. Logat jawa yang kental, makanan manis, dan bunyi gamelan adalah pengalaman langsung yang hingga kini tidak pernah saya lupakan. Saat itulah saya sadar, betapa bangsa ini memiliki kekayaan budaya yang luar biasa menakjubkan.
Saya melihat wedang ronde secara langsung, makan nasil pecel dan gudek, mendengar gamelan, bertegur sapa dengan para abdi keraton, melihat silsilah sultan, menonton tarian jalanan di alun-alun, merasakan kepadatan malioboro, meraskan dan mendengar kencangnya deru ombak parangtritis, dan bertemu langsung dengan Borobudur.
Saat itulah saya merasakannya, betapa Jogja, Parangtritis, dan Borobudur akan selalu menjadi bagian dari diri saya yang tidak akan pernah hilang. Melalui perjalanan ini kebanggaan terlahir sebagai Putri bangsa ini menggenapi setiap relung hati saya, dan tidak ada yang berkurang. Hingga detik ini.
Sama halnya dengan Genta dkk dalam 5 cm, Andrea dan Arai di Edensor. Perjalanan akan selalu merubah kita. Perjalanan akan selalu memoles kita dengan semua pelajaran yang tidak akan kita dapatkan di rumah. Setiap kali berangkat, kita telah menyerahkan jiwa kepada alam, dan akan pulang dengan pemahaman baru tentang kehidupan. Itulah proses mencintai, proses yang menjadikan diri menjadi lebih baik.
Nasionalisme itu telah lahir. Tidak besar, tapi ia ada. Dan ia harus terus tumbuh, dirawat dan dijaga dengan baik. Hingga kemudian menjadi sebuah cinta bakti untuk bangsa. Dan semua itu akan ada melalui perjalanan-perjalanan berikutnya.
Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.  Bagaimana mungkin Nasionalisme timbul jika kita tidak mencintai Negeri ini? Dan bagaimana mungkin kita mencintai jika kita tidak mengenalnya?
Jadi, jelajahilah Nusantara. Dan temukan keping-keping nasionalisme di setiap tanahnya.
Dan rasakanlah, Indonesia memanggilmu. 

Travelling, it leaves you speechless, then turn you into storyteller (Ibn Batutuah). 

0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 maycut on post