Rabu, 15 Februari 2017

Awal yang enggak enak.


“Ndut, lu nulis lagi donk!”
Aku yang sedang menyuapkan mie instan kedalam mulut sampai harus melepehkannya kembali saking terkejutnya.
Atau karena panas. Entahlah.
Iya, jorok memang.
Maksudku wajarkan kalau aku terkejut.
Soalnya, dari sejuta sekian banyak orang yang mungkin aku kenal, aku tidak pernah mengharapkan kata-kata itu akan keluar dari mulut mereka secara langsung. Maksudku, kenapa harus ada orang yang mau repot-repot tertarik dengan kegiatan tulis-menulisku?
                Apalagi dari seorang Mpret. Itu lebih-lebih tidak mungkin.
Karena Mpret itu sama sekali tidak tertarik dengan kehidupan orang lain. Dia itu makhuk paling antisosial yang pernah aku kenal. Bukan karena tidak ada yang peduli padanya, dia yang cenderung tidak memperdulikan orang lain.
“Kamu, nggak lagi minum kan?” aku coba memastikan. Mana tau dia sedang dalam pengaruh alcohol. Makanya ngelantur.
Mpret yang sedang mengutak-atik Handphoneku dengan posisi kaki yang diselonjorkan ke dinding menjawab tanpa menoleh.
“Enggak lah. Dosa tau. Maksud gue, elo kan kemarin itu niatnya mau jadi penulis, nah kok enggak pernah nulis lagi?”
Tiba-tiba aku sama sekali tidak tertarik lagi dengan mie yang sedang aku makan.
Sayang. Padahal special. Pake udang lagi. Hasil nyuri di kulkas Mpret.
“Yaa lagi nggak mood aja.” Jawabku asal.
“Nggak mood kok sampai bertahun-tahun”. Cibirnya.
Aku memandangnya dengan sebal. Mpret ini memang punya kemapuan aneh yang membuatku selalu kesal kalau berada didekatnya. Bukan karena tidak suka pada mulut cablaknya, tapi lebih karena semua yang dia katakan itu benar. Dan perkataan ‘benarnya’ itu menusuk-nusuk harga diriku, egoku, dan akal sehatku. Terus-terusan mengusik untuk dipikirkan kembali.
Kurang mengesalkan apa coba?
Aku mengambil komik dari lacinya. “Yaa orang kan bisa berubah. Kamu berubah, aku juga berubah. You know what? Kita bukan anak SMA yang punya mimpi setinggi langit lagi.”
Mpret menoleh, menatapku dengan pandangan aneh.
“Oh ya? Apa emangnya?” “Cita-cita loe sekarang ganti? Jadi apa?”
“Jadi istri orang kaya.” Jawabku asal.
Pletak.
Sebuah komik menghantam kepalaku dengan telak.
Aku menatapnya dengan sebal. “Apa sih Mpret! Sakit tau!!”
“Biar otak loe geser ketempat yang bener. Eh kata-kata loe itu bikin derajat kaum wanita turun tau ga! Gue merasa terhina ini dengernya.”
“Maap. Canda Mpret. Cuma Bercanda. Ya ampun serem amat sih. PMS ya? Lagian kenapa kamu yang merasa terhina? Emang orang kaya yang mau aku nikahin itu kamu?”
“Terhina karena gue punya temen bego kayak elo”
Tuhan, kenapa dulu aku mau berteman dengannya.
“Pokoknya,..-Mpret bangkit dari posisinya dan duduk bersila menghadapku yang kini mulai kembali tertarik dengan mie tadi.
….Loe mulai nulis lagi. Nulis aja dikit-dikit. Cerpen alay-alay gitu, kayak jaman SMA dulu. Pokoknya nulis. Kasian tau, masa depan loe itu nanti kurang bersinar.”
Aku melengos. Apa hubungannya coba??
“Bersinar kok, kalau nikahnya sama anak pejabat. Minimal anak wakil kepala Dinas.”
Lalu aku buru-buru melanjutkan saat Mpret mengambil ancang-ancang untuk menjitakku dengan hpnya.
“Iya-iya aku nulis. Tapi stuck sama ide ini. Bingung mau nulis apa.”
“Aaah, nulis tentang Dinosaurus ajaa. Gimana?”
Dinosaurus yang Mpret maksud disini adalah calon orang ‘kaya’ yang akan aku nikahi nanti, kalau berjodoh. Amin.
“Ogah, alaaaay ih.”
“Lagipula kenapa sih maksa banget? kangen sama tulisan aku yaaa?”
Mpret mengibaskan tangannya.
“Sama sekali enggak. Dengernya aja gue ngerasa kayak elo menghina gue”.
Dia menatapku dengan serius.
“Intinya gue udah nggak sanggup lagi liat loe menyeh-menyeh tentang tujuan hidup yang enggak pasti. Yaah sebagai teman dekat loe, gue wajib mensupport lah, biar loe punya tujuan hidup yang bermakna. Dan karena yang selama ini gue perhatikan, satu-satunya hal yang bisa loe lakukan dengan baik adalah membaca dan menulis. Jadi yaaa menulislah nak.”
Aku benar-benar bingung.
Antara harus merasa terharu atau terhina.
“Okee, jadi aku mulai menulis.  Lalu apa?”
“Good question. Loe tanya itu sama diri loe sendiri. Oke sayang?” Ujarnya sambil kembali membaca pesan-pesan di hpku.
Nah kan,,,
Mpret selalu begitu. Mulutnya memang kasar, omongannya benar-benar menusuk. Kalau kamu sedang sedih atau marah, jangan harap dia akan menghibur dengan kata-kata penghiburan yang baik dan benar. Entah dulu dia tidak benar-benar belajar tentang tenggang rasa, entah itu memang sifat bawaannya. Mpret akan mencercamu dengan fakta yang tidak akan kau dengar dari orang lain. Dan fakta itu seringkali menyakitkan. Ibaratnya sih memberikan jeruk nipis pada luka. Pediiiih. Tapi yaaah kalau kita jeli, kalau kita mau mendengar kita akan sadar, apa yang dikatakannya itu benar. Dan kalau kita mau mengakui, pediiih banget. Tapi lukanya juga cepat sembuh jadinya.  
Oh ya, aku memanggilnya Mpret bukan hanya karena sifatnya yang amat kampret, tapi karena dia dengan sombongnya menasbihkan dirinya sendiri sebagai  pacarnya Tony ‘Mpret’, tokoh dalam novel Petirnya Dee. Dan lagipula kalau aku mengungkapkan jati dirinya disini dengan semua sifat mulut cablakanya kan kasian dia…..
“Oh iya, nanti kalau loe mau bikin tulisan tentang hari ini, tolong nama gue jangan dimention  ya. Awas kalo loe mention. Gue upload foto aib loe pas nginap di sini.” Ancamnya saat aku pulang.
….  Siapa yang bakalan mau nikah sama monster macam itu.
Jadi, inilah tulisan absurdku. Tulisan pertama di tahun 2017. Hasil dipalak oleh Mpret. Dengan sistem penulisan yang benar-benar kacau. Tapiii, ya udahlah yaa. Nggak mau banyak janji. Coba-coba aja dulu. Mana tau bisa kembali seperti dulu. Emang dulu aku gimana ya? Haha.

Halo again.
                                                                                                                                                                                Cut May.



1 komentar:

Copyright © 2015 maycut on post